Panglima TNI: ketahanan kesehatan nasional dapat ditingkatkan

0
24

Jakarta (ANTARA) –

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengharapkan ketahanan kesehatan nasional ke depannya dapat lebih ditingkatkan, agar mampu menghadapi ancaman biologis, seperti wabah penyakit.
“Agar ketahanan kesehatan nasional Indonesia kuat dalam menghadapi ancaman pandemi penyakit di masa datang, marilah kita pikirkan bersama agar Indonesia selalu siap menghadapi ancaman biologi atau pandemi penyakit,” kata Panglima TNI dalam sambutan yang dibacakan oleh Irjen TNI Letjen (Mar) Bambang Suswantono pada FGD Rapat Koordinasi Teknis Kesehatan (Rakorniskes) TNI, di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.
Marsekal Hadi menuturkan, dalam upaya peningkatan ketahanan kesehatan nasional itu perlu melibatkan seluruh komponen bangsa.
“Semua harus bersatu-padu menghilangkan ego sektoral dan bahu-membahu untuk membentuk ketahanan kesehatan nasional yang kuat, baik itu dari sumber daya manusia, sarana prasarana, dan kebijakan peraturan perundang-undangannya,” kata Panglima TNI yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) ini.
Karena itu, lanjut dia, dalam FGD ini perlu dipikirkan apakah perlu adanya badan atau lembaga yang memiliki tugas pokok dan fungsi mengoordinasikan pelaksanaan kebijakan dan menyelenggarakan pertahanan negara di bidang biologi (biodefense).
“Apa perlu adanya pusat biosecurity dan biodefense yang tugasnya adalah mengoordinaskan dan melaksanakan identifikasi, deteksi, pencegahan, dan respons terhadap ancaman bioteror dan ancaman kedaruratan kesehatan akibat penyakit infeksi,” katanya lagi.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, biosecurity dan biodefense tersebut memiliki tanggung jawab koordinasi dan kerja sama dengan kementerian pertahanan dan kementerian/lembaga terkait lainnya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam kesempatan itu, Marsekal Hadi juga menjelaskan ancaman bisa dikelompokkan menurut jenisnya menjadi dua, yakni ancaman militer dan ancaman nonmiliter.
Pertama, ancaman militer yang didukung kecanggihan teknologi informasi, senjata kimia, biologi, radiologi, nuklir, dan bahan peledak 5 (Chemical, Biological, Radiological, Nuclear and Explosive/CBRNE), yang dapat digunakan untuk menyerang sasaran terpilih maupun sebagai pemusnah massal.
Kedua, ancaman non-militer yang juga didukung kecanggihan teknologi tersebut khususnya bencana alam dan bencana nonalam yang dapat memiliki dampak yang sangat luas.
Misalnya, lanjut Marsekal Hadi, bencana alam karena perubahan iklim, pandemi yang disebakan oleh virus atau bakteri seperti penyakit yang ditimbulkan Corona dan turunannya.
Ancaman biologi atau biothreats, seperti penyebaran Virus Corona yang memicu pandemi COVID-19, kata mantan Irjen Kemhan ini, telah terbukti menimbulkan kerusakan dan masalah kemanusiaan dengan menghancurkan sendi-sendi sosial, budaya serta ekonomi masyarakat dan dapat memicu krisis perekonomian nasional, bahkan krisis dunia.
“Apabila tidak dikelola dengan baik dan benar akan membahayakan keamanan nasional,” ujar Panglima TNI pula.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here