DPD RI: Pembangunan Papua harus libatkan adat, agama, pemerintah

0
54

Jakarta (ANTARA) – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Papua Barat Filep Wamafma mengingatkan apabila ditelaah secara mendalam dan holistik, tipologi pembangunan di Papua seharusnya melibatkan tiga peran, yaitu adat, agama, dan Pemerintah.

Menurut dia, sepanjang kebijakan strategi nasional mengesampingkan tipologi pembangunan di Papua seperti itu, maka tentu tujuan kebijakan pembangunan tidak akan tercapai.

“Rencana kebijakan strategis nasional yang dikerjakan oleh pemerintah pusat di Tanah Papua dapat tercapai jika kebijakan dialog tersebut menciptakan kedamaian,” kata Filep, di Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan, adat merupakan roh pertama dalam pembangunan di Tanah Papua. Adat adalah Ibu bagi Orang Papua. Karena itu, menurut dia, adat yang paling memahami keadaan Papua.

“Melibatkan adat adalah langkah terbaik dalam pembangunan, karena dengan demikian ada perhatian atau care sebagai Ibu bagi Tanah Papua,” ujarnya.

Filep mengatakan, agama merupakan bagian integral dari masyarakat Papua, sejak Zending Kristen hingga penyebaran agama lainnya di Papua.

Dia menilai, ruang sakral agama selalu menjadi wadah reflektif bagi orang Papua dalam melihat dirinya sendiri.

“Dalam hal pembangunan, agama perlu dilibatkan agar kecintaan terhadap Papua dinyatakan dengan sungguh-sungguh,” katanya.

Setelah itu, menurut dia, Pemerintah akan menjadi titik kepercayaan baru, yaitu adat dan agama meletakkan harapan.

Ia menilai, apabila ketiga sektor tersebut sudah bekerja, maka perdamaian akan tercipta di Bumi Papua.

Filep juga mengomentari terkait sejumlah tokoh agama Papua menemui Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko pada Rabu (16/12), ingin mencari solusi bersama Pemerintah terkait semua permasalahan di Papua.

Menurut dia, harapan para tokoh agama tersebut sesungguhnya menjadi harapan terbaik dari rakyat Papua, kedamaian di Tanah Papua bukan sebuah ilusi apabila Pemerintah membuka ruang dialog sebesar-besarnya.

“Hingga saat ini harus diakui bahwa cerita tentang Papua selalu terpusat pada diskriminasi, kekerasan, militerisme, konflik, keamanan. Kata ‘damai’ sepertinya sulit sekali tercapai di Bumi Papua,” katanya pula.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here